-->

Misteri



Sama seperti Pak O,lelaki ini pun mahal senyum.Jadi kusimpulkan,ada apa gerangan dengan lelaki ini dan Pak O?Apakah keduanya mempunyai hubungan keluarga?Atau jangan-jangan itu lukisan Pak O muda.


Aku menarik telinga bapakku dan membisikan sesuatu kepadanya.


“Lukisan itu siapa,pak?”bisikku hati-hati,”Pak O,ya?”


Sayangnya nada suaraku tak bisa disetel lebih pelan sehingga Pak O menukas dengan kata-katanya sebelum bapakku.


“Ini foto presiden pertama kita,tahu tidak?ini foto Bapak sukarno!kelak kamu akan tahu tentang dia jika kamu sudah sekolah?”Kakekku menjelaskan sedikit dengan tangannya yang menunjuk ke arah foto yang ada di dinding bilik belakang tubuhnya.


Aku memandang wajah lelaki sepuh itu beberapa saat,kemudian wajah bapakku.Bapakku tersenyum dan manggut-manggut ke arahku.


“Makanya kamu harus mau sekolah supaya tahu tentang dunia dan segala hal,nak?”Kata bapak kemudian.Aku manggut-manggut juga akhirnya.Gaung pikiranku memantul-mantul di tempurung kepalaku tentang hubungan lelaki dalam foto itu dan Pak O.Pikiranku semakin tambah semrawut karena tak menemukan jawaban kenapa Pak O tidak memberikan penjelasan lebih jauh lagi.Seharusnya ia,seperti bapakku,memajang foto keluarga sehingga orang-orang yang bertamu tidak banyak bicara dan punya pikiran ngawur,macam aku ini.


“Arom?kamu bantu emakmu di dapur,siapa tahu dia sedang butuh bantuan,”kata bapak sambil mengelus rambutku dengan pelan,”bapak mau bicara dengan kakekmu,ya sayang?”


Aku memonyongkan bibir,sangat kecewa sekali.Tapi karena yang bicara bapak,aku menuruti keinginannya.Aku pun beranjak,lepas dari jangkauan mata kakek dan bapakku.


Tidak bisa kumengerti apa yang sedang bapak dan kakek bicarakan.Obrolan mereka seperti dibatasi malam yang gelap.Nada bicara mereka kadang meninggi sedikit dan kadang turun tanpa sebab.Walaupun aku masih kecil,kurasa aku mulai belajar bagaimana menghargai kerahasiaan.Jadi aku hanya berdiri didekat pintu ruang tengah.Tubuhku dengan hati-hati kusembunyikan dibaliknya.Aku tak membantu emak karena memang wanita itu tak menginginkan bantuan kecilku yang menurutnya malah bikin merepotkan.


“Hmm,masih kecil senang menguping pembicaraan orang tua,pamali!” Tiba-tiba emak mengagetkanku dari belakang.Ia membawa nampan berisi teko kecil dan dua gelas kecil.Dari teko kecil itu menguap bau racikan teh yang khas.


“Tolong,Arom!bawa toples yang ada didekat pasaragen di dapur.”perintah emak kemudian.


Sungguh mati!mendengar perintah emak,tubuhku agak merinding.Dapur rumah kakek bersebelahan dengan pekarangan bambu dan disebelah pekarangan itu letak makam kampung yang angker.Jadi manalah mungkin aku berani ke dapur.Hiii!


“Takut,mak.”


Emak hanya bisa menggeleng-geleng kepala ketika tahu aku seorang pecundang.Mungkin ia sedang merutuk mengapa ia melahirkan anak lelaki yang tak bisa diandalkan.


Malam kian tambah larut.Desir angin malam lemah membelai daun-daun bambu.Suasana kampung benar-benar sepi.Sesekali suara jangkrik dan teman-temanya mengerik menghibur malam yang sepi.Bintang-gemintang memang kelihatan banyak bermunculan.Tapi mereka sibuk dengan urusannya masing-masing sehingga lupa mengajak sang rembulan untuk tampil malam ini.


Kulihat Pak O menerawang ke atas bumbungan rumah bilik yang sudah mulai banyak sawang.Entah apa yang ia pikirkan.Sedangkan bapakku nampak menahan raut mukanya agar tidak menunjukan ekspresi apa-apa.Seberkas api dari lampu damar yang berada dekat geribig menerjang tubuh-tubuh yang ada didalam ruangan ini.Terjangan cahaya dari lampu damar itu membentuk bayang-bayang di dinding bilik.


Aku meringkuk dipangkuan Emak.Sama sepertiku emak sepertinya tak bisa berbuat apa-apa.


“Aku sangat merasa berdosa sekali kepada emakmu,kri?”Kata kakekku pada pada bapak,”20 tahun aku meninggalkan kamu dan emakmu dan semua orang-orang yang kukenal.”


“Sudah lupakan saja,Pak.Aku sendiri juga sudah melupakan dan memaafkan semua kesalahan bapak.”


“Tapi aku tak bisa melupakan semua peristiwa malam jahanam itu.”


Pak O bergetar menahan luapan emosi yang begitu hebat.Berkali-kali ia menarik nafas dalam.Entah apa yang sedang ada dalam pikirannya.Tingkah laku-lakunya seperti tak biasa.Aku tak berani kepada emak tentang apa yang sedang terjadi.


“Terserah bapak,aku sudah sering meminta tinggal bersama kami,tapi selalu saja bapak menolak.”Kata bapakku kepada Pak O.


“Sakri,aku sangat berterima kasih pada si Sayon.Mungkin kalau bukan karena didikan dia kau pasti membenciku.”


“Pak..”


Tiba-tiba Pak O memotong kata-kata yang hendak diucapkan bapak dengan telapak tangannya.


“Tapi semenjak aku dalam pelarian dan mendengar emakmu tewas ditangan orang-orang yang tak lebih dari para penjilat itu,membuat jiwaku terguncang dan sangat merasa bersalah,”pak o memejamkan mata beberapa saat,” sejak saat itu aku bersumpah tak mau merepotkan siapapun di sisa usiakku ini.”


“Zaman sudah berubah,pak?”Kata bapak mencoba mengurai ketegangan yang sedang terjadi.


“Kau benar,zaman sudah berubah.Tapi sayang kenangan buruk itu tak berubah.”


Pak O melihatku yang meringkuk dalam pangkuan emak.Ia menghampiri kami,lalu membelaiku.Walaupun tak sehalus belaian emak,aku merasakan ada kasih sayang disana.


“Saryi,kau didik cucuku ini baik-baik.”


Saat ini aku benar-benar tidak mengerti sebenarnya apa yang membuat Pak O tidak mau mengikuti ajakan bapak.

Misteri