-->

Kena malu



Aku selangkah lebih awal karena taruhan ini berdasarkan ideku.Jadi dalam masalah ini aku mempunyai bahan-bahan yang lebih banyak daripada Temon,sahabat bermainku ini.Tunggu saja,temon takkan kubuat menang.


Jalanan kampung nampak lengang.Jalan yang hanya serupa hamparan tanah berselimutkan batu-batu kerikil itu tidak menarik minat orang-orang untuk berlalu lalang di bagian tengahnya.Maklum,jalan itu tidak semulus jalan beraspal yang sering aku dan emak lewati ketika ke pasar.Hanya bagian tepi jalan yang sering menjadi pilihan.Karena itulah permukaannya mulus dan enak dilewati jika digunakan untuk berkendara.Satu-satunya kendaraan yang tidak terpengaruh badan jalan itu cuma mobil,itupun seringnya mobil-mobil truk atau pick-up yang sering mengangkut hasil bumi.Orang-orang kampung belum ada yang punya mobil pribadi.Lebih banyak mereka mengandalkan sepeda daripada kendaraan bermesin yang sering menimbulkan asap pedas.


Orang-orang kampungku,kutahu sangat antusias dengan kesederhanaan walaupun itu hanya sebatas sebuah sepeda. Bapakku punya satu.Bukan baru tapi bekas.Sepeda bapak berwarna merah darah.Sparkboard-nya raib tak menempel lagi didudukannya karena bautnya sudah tak waras.Rem tangannya juga tak ada,bapak benci rem sepedanya karena sering mogok kerja.Tak ada bel sepeda ,bapak juga benci benda yang satu ini.Lantaran benda itu sudah tak patuh lagi,sering bunyi biarpun tak ditekan tuasnya.Gambaran kasarnya,sepeda bapak seperti besi rongsok yang masih layak pakai.


Biarpun sepeda kami tak layak jalan.Tapi kami menghargainya dengan keikhlasan.Emak berulang-kali meminta bapak agar menjual si merah darah itu.Berulang-kali pula bapak menolak.Aku tidak tahu alasannya.Jadi sering ku perhatikan rupa sepedaku,siapa tahu ada benda berharga yang menempel dan membuat bapak enggan menjualnya.Mata kecilku tak mendapatkan apa-apa kecuali segel spanneng bulat sekuku jari yang menempel dibawah stang sepeda.


Temon dengan awas menatap belokan jalan.Ia sangat yakin,pada sepersekian detik akan muncul orang yang paling ia jagokan.Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Pak Guru.Pendakwah muda yang sekaligus menjadi guru bantu di sekolah dasar satu-satunya di kampung.


"Aku yakin,Pak Guru."Katanya.


"Cup ya!"Jawabku dengan segera.Aku tak mau temon meralat kata-katanya.Diantara kami,kata cup bermakna "Keputusan akhir".


Temon segera menyahut kata-kataku.


"Menurut kamu,siapa coba yang lewat?"


"Baiklah,dia pasti hmm...Pak akhmad."Kataku mantap.


"Cup!"Temon memutuskan.


Kami bersalaman tanda bahwa kami sudah memutuskan tentang siapa-siapa yang mungkin akan melewati belokan itu.


Detik demi detik terus berjalan.Hari sudah semakin menjelang ke titik pertengahan.Sinar matahari yang kian panas terasa menembus kulit dari celah-celah rimbunan daun duwet.Pertaruhan kecil yang sedang berlangsung pun kian mengkhawatirkan.


Kami terus mengawasi dengan seksama.Kejadian-kejadian kecil yang terjadi di titik target pengamatan tak luput kami lihat.Ada-ada saja kejadian yang terjadi disana.Mulai dari dua ekor kucing yang saling berkejaran,entah apa yang mereka perebutkan.Lalu lewat juga seorang ibu yang menggendong anaknya.Pada kejadian yang kedua ini,kami sempat berdebat,apakah termasuk hitungan atau tidak.Temon bersepakat hanya ada satu syarat;orang bersepeda.


Dan akhirnya!Pertaruhan kami harus disudahi.Disana,seseorang yang kami tunggu nongol dengan sebuah sepeda onthel hitam.Temon berteriak kegirangan.Sedangkan aku merasa sangat lemas ketika melihatnya.Temon menjulur-julurkan lidahnya,dia mengejekku.


Tapi tunggu dulu! Pak guru tidak sendirian.Ia membonceng seseorang.Orang itu tak lain,Pak Akhmad,jagoanku.Aku yakin betul.Horeee...


Lagi-lagi kami berdebat.Pertaruhan kami sudah tak masuk akal lagi.Kenapa bisa terjadi kebetulan,dua orang yang kami pertaruhkan bisa muncul secara bersama-sama.Ini sungguh aneh.


"Pak guru yang menang!"


"Pak Akhmad!"


"Pak Guru!"


"Pak Akhmad!"


Pohon duwet bergoncang-goncang.Kami semakin larut dalam perdebatan yang sangat aneh.Dan...


"Hey! Sedang apa kalian disana?"Teriak seseorang dari bawah.


Kami berhenti dan terkejut ketika tahu orang yang berteriak itu ternyata Pak Akhmad.Ya ampun! rupanya tanpa kami sadari beliau dan pak guru sudah memperhatikan kami beberapa detik yang lalu.

Kena malu