-->

Selamat malam



Malam kian larut.Bintang-gemintang mulai nongol membentuk kelompok-kelompok besar.Bulan padahal sudah waktunya purnama tapi malahan malu-malu menampakan diri.Apa ia takut dengan derit pohon-pohon bambu yang menjerit-jerit dari belakang pekarangan rumah atau ia termakan omongan orang bahwa di dapuran bambu itu tempat nongkrong yang cocok para bibi kuntilanak dan kerabatnya.Oh,tidak!Derit dapuran bambu memang keterlaluan.Mungkin itu gara-gara angin malam yang iseng bermain-main dengan hawa dingin malam.

Bau tanah kering di lantai rumahku seperti aroma terapi menenangkan jiwa.Apalagi dengan penerangan dari lampu damar,sebuah alat penerangan yang terbuat dari bekas botol obat tanaman dan memakai minyak tanah sebagai bahan bakarnya dan api dinyalakan melalui sumbu kain bekas.Kalau tidak bukan karena suara tikus-tikus tengik dan kucing kampung sialan yang sedang balap lari di atas belandar rumah bilik ini.Mungkin malam ini malam paling menakutkan yang terjadi di akhir maret,bulan kelahiranku kata emak.

Dari celah-celah anyaman bilik-bilik bambu.Pedang-pedang cahaya bulan menebas cahaya damar yang redup,kedua cahaya itu memendar kesekitar ranjang besi.Ranjang besi besar tanpa kelabu ibarat benteng tanpa perlindungan.Sekawanan berandal-berandal kecil nyamuk-nyamuk usil berpesta pora.Mereka berlalu-lalang di udara kosong ruangan,mungkin sambil saling berteriak pada sesamanya 'ayo kita berpesta pora,serbuuu!'.Dan patroli lebah-lebah madu yang bermarkas di samping barat bilik sama sekali tak membantu nyamuk-nyamuk berandal itu pergi.Bapak yang mendirikan unit satuan patroli lebah itu disebuah potongan batang kelapa berongga dan digantung dengan tali jemuran.Lebah-lebah itu memang penjilat,ketika tak ada bapak mereka seenaknya bertugas.Itulah agaknya mereka cukup berbahaya daripada nyamuk-nyamuk berandal itu.

Matakku tak bisa kupejamkan.Sambil menatap penutup atas ranjang besi yang terbuat dari terpal yang menghitam karena jejak jelaga lampu minyak damar.Bayangan bapak seperti menari-nari dipelupuk mata.Bayangan itu berganti-ganti seperti gambar layar tancap yang sering dipertunjukan di lapangan kampung,layar tancap itu kerjaan segerombolan tukang obat yang rutin tiap tahun mampir ke kampung.Mengenai bapak,aku merasa sangat rindu padanya.Aku ingin mengadukan kepada bapak tentang pohon duwetku yang pintar berbuah,tentang lebah-lebahnya yang liar,tentang tikus-tikus tengik dan kucing sialan yang mengganggu acara 'awal tidurku' atau tentang gentongnya yang harus ditambah kemampuannya agar cepat merespon kabar.Dan yang paling penting tentang keluhan emak yang sudah tak punya uang.Ini pokok utamanya aku merindukan bapak.Jika emak sudah tak punya uang sama saja aku tak bisa jajan dan jika aku tak bisa jajan,aku akan sering merengek dan jika aku sering merengek maka emak akan memarahiku.

Aku sangat mencintai bapak.Sekali lagi,aku sangat mencintai bapak.Tidak ada yang sehebat bapakku yang mempunyai pasukan lebah.Lelaki tegap itu,aku percaya punya kemampuan lebih daripada lelaki kebanyakan di kampung.Buktinya ia termasuk segelintir orang yang mempunyai kemampuan memanjat "pohon duit" di Jakarta sana.Agaknya karena sering memanjat itulah bau badannya sepersepuluh lebih menyengat daripada yang lainnya.Tapi aku tak merasa terganggu,justeru aku bisa menandakan kalau ia adalah bapakku.

Disamping itu,ia tukang dongeng terbaik yang pernah aku kenal.Sebenarnya sekarang saatnya ia mendongeng ketika aku susah tidur.Aku ingin mendengar kelanjutan ceritanya tentang seorang pengembara muda dari barat yang mampir ke kampung kami sewaktu masih berupa hutan liar.Diceritakannya,bahwa dulu ada seorang pengelana yang bernama nasirudin.Nasirudin ini seorang pengelana sunda dari ujung barat.Beliau mampir dan kehausan lalu tidur dan kesiangan dan apalagi ya? Ah aku lupa-lupa ingat.Agaknya ceritanya seperti itu,nanti kuminta bapakku agar mendongeng lagi karena kemampuan daya ingatku masih rendah.Walaupun bapak orang kampung sejujurnya aku sangat terkesan dengan gaya ceritanya.Ia seperti orang-orang berjas yang sering ngomong sendiri di tivi setelah isya dan dipojok kanan bawahnya ada orang yang selalu menggerak-gerakan tangannya,sepertinya ia bisu karena selalu berbuat begitu.Lalu setelah orang berjas itu ngomong akan ada tayangan-tayangan perang dan berbagai macam tayangan lain yang menurutku begitu-begitu saja.Tidak menarik minatku untuk menonton.

Kata bapak,kami keturunan dari lelaki yang bernama nasirudin ini.Buktinya kami akan sangat berbeda dengan tetangga-tetangga kampung kami yang terbiasa ngomong jawa.Dan lidah kami di anugerahi dua kemampuan bahasa,bisa berbicara jawa dan sunda sekaligus.Jika sudah mendongeng,biasanya bapak memberi wejangan agar aku tak melupakan jasa-jasa orang terdahulu yang baik-baik.Sejak saat itulah aku selalu mengaggumi sosok Nasirudin yang makamnya ada di utara kampung.

Tidak hanya pandai mendongeng.Bapakku senang membaca.Jika ia pulang dari jakarta.Ia sering membawa koran dan majalah,istilah ini aku tahu dari bapak.Tapi ia sering membawa majalah.Disampul depanya ada coretan rapi tebal serupa ini;G-A-T-R-A.Lalu dibawahnya ada gambar orang-orang kota.Jika aku buka ada untaian coretan yang berukuran seperti semut berbaris.Banyaak sekali.Yang paling aku suka dari majalah bapak.Gambar-gambarnya bagus dan mengkilat.Ada gambar mobil,kereta api dan sebagainya.Aku sangat suka pada salah satu gambarnya yang menampilkan sebuah kendaran yang mempunyai ban tapi bukan mobil.Kata bapak itulah kapal terbang.Jika ia melihat aku membuka majalahnya secara serampangan.Ia akan menegurku dengan mengiming-imingiku dengan kata-kata"Jika kamu bisa membaca,majalah itu bisa ngomong sendiri."

Bapakku biasa pulang setelah purnama berlalu.Atau jika tidak ia akan pulang sebelum di rumah mengadakan sesaji.Seingatku ia akan pulang sebelum hari jumat kliwon,aku tidak tahu tentang jumat kliwon ini,tanyalah pada emakku.Jika bapak pulang,kalian tahu? beliau akan membawa juga oleh-oleh buah-buahan yang tidak ada di kampung kami,tapi ia lebih sering membawa kacang ganepo dan botor,seperti kelereng tapi berwarna hijau tua.Setelah itu,emakku akan mengundang tetangga agar menikmati bersama bapak di ruang tamu kami

Setelah hari-hari kepulangannya,ia akan menengok pasukan lebahnya dan setelah itu mengunjungi sawah sempit kami ujung selatan kampung atau ia lalu akan berziarah ke makam mak olot (emak bapakku atau nenekku).Membersihkan makam emaknya atau jika senggang ia juga membersihkan makam kaum kerabat kami.Jika kebetulan di pemakaman bertemu dengan kuncen makam,wak Sayon,ia akan memberikan sebuah amplop putih dengan garis tepi berwarna merah dan biru yang sudah dipersiapkan ketika akan berangkat ke makam.Mereka akan terlihat seperti seorang bapak dan anak yang akrab.Tidak seperti aku yang akan menjauh kuncen makamitu sedikit demi sedikit karena parfum cendananya yang sering menakutiku.Dan jika memungkinkan Bapak dan aku akan mampir ke rumah bapak olot (bapaknya alias kakekku).Begitulah jalan ceritanya.Hampir selalu begitu.

Pelan tapi pasti mataku kian berat.Remang-remang cahaya dari damar mulai meredup dari mataku.Aku terlempar ke dunia yang tak bertepi tempat semua hayalan berlabuh.Selamat malam.

Selamat malam