-->

Love bapak!




Shalat Maghrib telah usai.Emak ada urusan kecila,beliau memintaku tinggal mengaji bersama anak-anak lain tapi aku menolak.Akhirnya,kami tak menunggu sampai isya.Aku merasa sangat lega,teror kematian dari bau minyak wangi cendana itu sudah aku lewati.Kulepas lipatan sarung yang menekan pinggangku.Dengan sedikit kreasi,kujadikan sarung itu penutup wajah.Tralala!aku sudah seperti ninja sekarang.Emakku sampai jengkel karena dia harus menungguku berubah wujud menjadi ninja.Ia mengomel tidak karuan.


Mushala baru beberapa langkah kami tinggalkan.Masih terdengar anak-anak mengaji.Sesekali suara wak sayon bersimpang siur dengan suara pak guru yang sedang mengajar ngaji.


"Dengar tuh,rom!anak-anak mengaji itu,kamu sudah besar segini masih juga kolokan."


"Biarkan saja,mak.Aku pengen ikut emak saja."


"Heh,dasar kamu ini."


"Kita langsung pulang,mak?"


"Tidak,kita mampir dulu ke warung Bu Tanyem."


"Asyiiik,aku nanti jajan ya mak? Bolehkan?Boleh ya,mak?"


Tak ada jawaban kecuali mata emak yang melotot.


Sehabis dari warung Bu Tanyem,kami langsung pulang.Tak ada secuilpun barang belanjaan yang dibawa emak.Padahal aku lihat emak mengeluarkan sejumlah uang kertas tadi dan mengatakan pada pemilik warung itu kata-kata;bayar,jatuh tempo,kurang,nanti dan terakhir dengan ucapan terima kasih.Sulit sekali aku merangkai ucapan emak dengan nada suara yang pelan,terlebih aku hanya menguping sambil lalu.Aku tidak tahu apa yang di obrolkan wanita yang telah melahirkanku ini dengan pemilik warung itu .Tapi ada untungnya aku ikut emak.Bu Tanyem langganan emak ternyata seorang pemilik dan sales warung yang pintar memikat pelanggan.Aku mendapat 2 bungkus kecil kacang ganepo dan cantir.Lumayanlah daripada tidak sama sekali.


Kami sudah sampai di rumah.Kuhempaskan pantatku di rusbang ruang tamu yang masih berkarpetkan tanah.Aku membuka kacang ganepo dan cantir aku taruh di meja.Sedangkan emak terduduk dengan lesu disampingku.Ia mengusap rambutku sangat pelan.


"Emak sedang tak punya uang lebih,nak.Jadi tak usahlah minta macam-macam kalau ikut ke warung."Emak menghela nafas dalam-dalam.Matanya mendadak sendu.Raut mukanya yang tajam telah berganti lembut.Rona-rona kelembutan itu menelusup ke dalam hatiku.Aku hanya bisa bertanya-tanya kenapa emak bisa berubah begitu cepat.


"Kenapa bingung,bapak punya pohon duit di Jakarta sana khan,mak?"Kataku sambil menunjuk ke arah barat.Aku tahu jakarta berada di arah barat kata orang-orang kampung.


Emak tersenyum ketika mendengar kata-kataku.


"Pohon duit bapakmu sedang tak berbuah,mungkin beberapa hari kedepan bapakmu baru bisa panen."


Ketika mendengar kata-kata emak.Mendadak aku ingat pada pohon duwet,sahabat botaniku.Pohon itu sekarang sedang giat-giatnya berbuah.Tadi siang saja kulihat ia masih menyisakan buah mudanya.Mungkin tak menunggu lama buah muda itu akan menjadi buah ranum.Aih!hebat sekali sahabatku itu.Mungkin ia punya cara mujarab agar cepat berbuah.Ingin sekali aku aku segera menemuinya dan mengadukan tentang masalah bapakku.Tapi mana bisa aku sekarang menemuinya,emakku pasti melarang dan aku sendiri tak berani keluar rumah dalam keadaan gelap.


"Kenapa tidak meminta tolong pada sahabaku saja,mak?"Kataku mantap.


"Siapa?"


"Pohon duwet."


Emak tersenyum dan pelan tapi pasti senyum kecilnya membesar.Aneh sekali dengan emak,bukankah aku memberikan ia saran yang masuk akal.


"Anakku...anakku...kamu ternyata pintar ya? Eh,sudahlah pohon bapakmu itu bukan seperti pohon duwetmu itu."


"Lantas apa bedanya dengan pohon milik bapak,khan sama-sama pohon?"


Kembali emak tersenyum tapi tak membesar.Ia mengusap rambutku dan mengelus tengkukku.Aku kegelian.


"Pohon bapakmu harus ditanam dengan kerja keras.Diolah dengan shalat dan berdoa dan dipanjat dengan kebaikan serta dipanen dengan tangan yang bersih."


Kupingku gatal ketika mendengar kata-kata emak.Otakku tidak bisa mencerna apa yang sudah dikatakannya.Malahan aku menganggap semua kata-kata emak adalah sesuatu yang tak ada didunia ini.Logikaku mengatakan bahwa semua pohon pasti ditanam dari biji,seperti pohon duwetku dan disiram dengan air lalu ditunggu sampai tumbuh dan berbuah.Kalau sudah berbentuk sebuah pohon baru bisa dipanjat.


"Tapi,mak...."


"Sudah,emak tahu apa yang akan kamu bilang,"jari telunjuk emak mengunci mulutku,"kamu rindu bapakmu khan?"


Aku mengangguk.


"Emak punya cara agar bapakmu mendengar di jakarta sana."


"Benarkah?"


"Kamu teriak saja di gentong dapur,katakan kalau kamu rindu padanya."


Tanpa pikir lama-lama aku segera berdiri dari dekapan emak.aku langsung lari terbirit-birit ke dapur menuju ke arah sebuah gerabah kasar besar berisi air yang terduduk di pojok dapur.Kubuka tutupnya yang berupa tutup bekas panci.Dengan sikap percaya diri aku teriak lewat mulut gentong itu.


"Bapak pulaaaang...aku rindu bapaaaak..bawa uang banyak yaaaa?"

Love bapak!