-->

Intimidasi




"Cepat mandinya!!"Emak berteriak dari dapur.

Aku bergegas menyelesaikan aktifitas mandiku.Emak sudah berpakaian putih-putih ala ninja.Maksudku,emak mengenakan rukuk siap-siap menyongsong shalat maghrib yang sebentar lagi Adzan-nya akan berkumandang dari surau dan masjid kampung.Setelah mengenakan pakaian,aku menuju meja makan sederhana di ruang dapur.Emak sedang menyiapkan uttuk acara makanku.

"Ini apa mak?"Kataku penasaran ketika melihat sebuah hidangan aneh seperti bakso berkuah kuning.

"Itu ondol,bikinan bapak olot,"Emak menciduk nasi ke piring kaleng,"itu terbuat dari kelapa dan daging burung perkutut."Katanya kemudian.

"Sama apa lagi?"

"Bakwan!"

Aku sebenarnya tidak suka dengan jenis penganan terakhir ini.Kalian tahu?bakwan itu penganan yang digoreng campuran terigu,kol,toge dan bumbu-bumbu,ini kata emak.Emak tahu aku tidak selera jenis makanan ini,tapi emak selalu saja menghidangkannya di meja makan.Sebenarnya itu bukan buatan emak tapi dari ibu pedagang keliling yang sering mampir ke rumah emak,aku tidak tahu namanya,nanti kutanya emak.Ibu bakwan itu (-aku menyebutnya begitu karena wajahnya serupa permukaan bakwan yang berminyak dan kasar-),dia sering mendengar keluh kesah emak atau sebaliknya, membuat ibu pedagang dan emak seperti sangat saling membutuhkan.Dan bakwan adalah simbol persahabatan antara ibu pedagang keliling dan emak yang baik hati.

Kruyuk,kruyuk,kruyuk.Suara perutku menjerit-jerit.Tapi mataku berputar-putar antara melihat bakwan dan muka emak yang tak berbeda jauh kalau sedang senewen.

"Nih,makanlah tak usah kamu pilih-pilih makanan,kita ini orang susah jadi tak usah pantang segala makanan.Asalkan halal dan aman untuk perut itu tak masalah."Kata emak sambil memberikan sepring nasi kosong tanpa lauk.Tangannya mencidukkan sebuah ondol dan mencomot sebiji bakwan untukku.Aku makan dengan pelan.Masakan ondol kupersilahkan masuk,tapi tidak untuk bakwan.Ia masih aku usir dengan kasar.

"Makan !!"

Sekali lagi,itulah emakku.Dalam segala hal ia memang keras.Mulutnya saja yang sedikit berisik tapi aku tahu,kebaikannya setinggi bintang-bintang di langit.Emak punya kemampuan hebat,ia bisa berkamuflase menjadi bentuk-bentuk lain.Misalnya,Ia bisa seperti induk ayam yang akan menyerang tikus-tikus liar yang mencoba mengganggu anak-anak ayamnya.Pun di lain waktu ia pun bisa merubah diri menjadi seekor macan yang mengajarkan cara untuk menjadi galak sebagai cara pertahanan diri.Dan yang tak kuhabis pikir ia bisa menciut seperti seekor semut yang baik bagi koloninya.Itulah emakku,wanita nomor satu sedunia.

Adzan maghrib berkumandang dari corong Toa surau dan masjid kampung.Suara panggilan suci itu membahana menggetarkan kalbu seolah mengetuk pintu-pintu hati yang berdebu dan menawarkan iklan tentang sebuah pembersihan diri.Tak pandang siapa yang mengumandangkan suara adzan bagi orang-orang yang menghambakan diri pada tuhan semesta alam.Orang-orang yang merasa dirinya sebagai mahluk kecil dan berdosa akan menjawab dengan melangkahkan kakinya ke arah sumber suara itu.Dan begitulah adanya,orang-orang kampung satu persatu kulihat mulai bergerak keluar rumah mereka.Meninggalkan bilik-bilik bambu mereka dengan segala yang permasalahan yang ada;kemiskinan,pertengkaran,hutang-piutang,anak rewel dan permasalahan lainnya.Semua permasalahan itu seolah hendak diadukan bersama-sama di tempat suci.

Mushala Al-hidayah adalah sebuah tempat peleburan segala keluh-kesah.Kehadirannya ibarat embung yang mengairi petak-petak ruhani orang-orang kampung yang kadung dirundung kemarau nasib yang tandus parah.Kehadiran Pak Dirun,kami lebih senang memanggilanya Pak Guru,seorang pejuang dakwah amal ma,ruf nahi munkar muda dari ciamis menjadi pengatur aliran air dakwah yang baru beberapa tahun menjadi imam mushala menjadi magnet tersendiri.Jadi aku sendiri belum tahu banyak tentang pak guru.Namun aku sedikit mafhum,Wak Sayon,sang Muadzin sepuh yang merangkap jabatan kosong sebagai juru dakwah honorer sangat merasa terbantu dengan kehadiran Pak Guru.Tenaga lelaki sepuh itu sudah menurun dengan semua kewajiban-kewajiban sosial dan moralnya yang sudah dilakoninya bertahun-tahun.Pohon tua sebentar lagi tumbang,ia berkeyakinan.Ia cukup berpengalaman dengan hidup;menjadi muadzin abadi,imam darurat,tak punya keturunan dan satu lagi ia mafhum tentang esensi hidup pasti bakal menemui kematian.Itulah kenapa ia tak keberatan ketika orang-orang kampung mendapuknya menjadi kuncen makam kampung.Ia hadir dalam setiap ritus kematian.Dari mulai mengajikan jenazah,memandikan sampai tahlilan dan terakhir menjaga kubur,seperti yang kubilang barusan.Dua orang inilah agaknya yang membuat emak rela hati mengunjungi mushala yang terletak di ujung timur kampung ini.

Aku hapal shaf muadzin sepuh itu setelah ia pensiun menjadi imam mushala dan menjadi makmum.Barisan depan dan pojok paling ujung kanan menempel tembok,disanalah posisi paling ia sukai.Saking sering bersentuhan dengan tembok membuat harum minyak wangi cendana-nya menjejak di tembok mushala.Harum minyak wanginya bernuansa kematian.Oleh sebab itu,jika aku berada di dekat pojok tembok itu seolah-olah lelaki sepuh itu sedang menasehatiku agar tidak membuat ribut ketika shalat berjamaah.Aku bisa menempati pojok itu,bukan karena kemauanku sendiri tapi intimidasi lelaki itu.

Intimidasi