-->

Kisah Fiktif Sunami dan Sunawar

Kisah Fiktif Sunami dan Sunawar
Lampung punya cerita miris,beberapa waktu yang lalu daerah pesisir pantai yang terhubung dengan selat sunda dihantam tsunami setinggi 4 meter.Banyak korban jiwa yang berjatuhan,terakhir kabar korban yang tewas sekitar 220 jiwa sedangkan yang hilang 30 jiwa.Saya sendiri yang tinggal di lampung hanya bisa tahu kabar seputar tsunami lewat media online.Kebetulan tempat tinggal saya berada jauh dari daerah pantai.Namun tetap saja sebagai manusia biasa,saya juga turut berduka atas musibah ini soalnya ini kejadian langka dimana tak ada tanda-tanda gempa tapi tsunami terlalu naLampung punya cerita miris,beberapa waktu yang lalu daerah pesisir pantai yang terhubung dengan selat sunda dihantam tsunami setinggi 4 meter.Banyak korban jiwa yang berjatuhan,terakhir kabar korban yang tewas sekitar 220 jiwa sedangkan yang hilang 30 jiwa.Saya sendiri yang tinggal di lampung hanya bisa tahu kabar seputar tsunami lewat media online.Kebetulan tempat tinggal saya berada jauh dari daerah pantai.Namun tetap saja sebagai manufsu menerjang daratan.Apalagi ketika mendengar informasi bukan hanya terjadi di lampung tapi banten juga ikut berduka karena memang wilayahnya bersentuhan dengan selat sunda.Kejadian ini memang terasa langka karena berbarengan dengan aktifitas vulkanik anak keratau yang mulai meningkat.Semoga semua peritiwa ini menjadi pelajaran berharga bahwa kuasa Tuhan tak ada yang mampu mencegah.Saya hanya berdoa semoga keluarga para korban yang ditinggalkan diberi ketabahan.Amin.

Tulisan ini bukan untuk mengambil keuntungan dari musibah yang terjadi.Tapi gara-gara tersiar kabar terjadi tsunami.Banyak update-an di grup WA yang saya ikuti penuh dengan notifikasi tentang tsunami.Sialnya,hampir sebagian pesan WA yang masuk ke hp saya terjadi kesalahan penulisan,seharusnya tsunami tapi malah banyak yang salah ketik menjadi sunami.Tentu saja membuat pikiran iseng saya timbul,karena namanya hampir mirip dengan nama mbak-mbak pelayan warteg.Mungkin kalau Sunami itu tentu saya juga doyan,lah.Ups!


Justeru ketika banyak orang sedang didera ketakutan susulan tsunami bakal datang lagi.Saya malah mendengar kalau teman-teman saya banyak yang mau pulang kampung ke brebes tepat setelah bencana terjadi.Rasa khawatir saya mulai timbul.Niat hati hendak mencegah tapi apalah daya rumor tentang kehebatan terjangan tsunami masih kalah hebat dengan rasa rindu teman-teman saya pada kampung halaman.Maklum saja,teman-teman saya hampir semuanya sudah berkeluarga.Sedangkan hampir tiga bulanan lebih mereka menghabiskan waktu di tanah rantau ini.Ya sudahlah!biarkan saja.Semoga teman-teman saya itu selamat sampai tujuan.

Jika di lampung punya Sunami,eh..tsunami,maka saya teringat pada kampung halaman saya yang punya Sunawar.Entah kenapa saya teringat pada teman satu ini.Perawakannya yang kempes seperti kehabisan darah mungkin gara-gara kebanyakan disedot sama nyamuk-nyamuk kampung yang gede-gede dan rakus-rakus itu.Ah,sudahlah!teman saya ini mungkin saat ini sedang membaca berita diberanda FB-nya.Biasanya memang begitu Orang-orang jaman milenial lebih paham android,data seluler,wifi serta kuota daripada artikel tak ada guna macam begini.Mereka lebih seneng tulisan yang pendek-pendek daripada yang panjang-panjang.Tapi kalau sudah urusan duit,jangan ditanya pasti minta yang deretan nol-nya sepanjang kereta.Begitulah realitas zaman sekarang.Semoga saja teman saya yang satu ini tidak membaca artikel ini karena saya juga tidak suka menulis yang panjang-panjang.Karena yang senang panjang biasanya isteri saya.hahaha….

Kisah Fiktif Sunami dan Sunawar